Pasar

Harga Emas Memasuki Fase Krusial, Berpotensi Naik hingga US$4.381? Cek Analisis Terbarunya

Harga emas memasuki fase krusial di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Data tenaga kerja AS yang melemah membuka peluang pemangkasan suku bunga The Fed, mendorong potensi kenaikan harga menuju US$4.381. Namun, jika terjadi reversal, emas dapat turun ke US$3.718. Sentimen juga dipengaruhi dinamika politik AS dan risiko geopolitik di Ukraina serta Taiwan.

3 menit membaca Sumber: Investor.id
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Grafik pergerakan harga emas dan analisis tren bullish di tengah ketidakpastian global

Pergerakan harga emas dunia sebagai aset safe haven di tengah ketegangan global (Sumber:Freepik)

Emitenhub - Harga emas global memasuki fase krusial pekan ini di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Bagi pelaku pasar, periode ini menjadi penentu apakah tren bullish emas dapat berlanjut atau justru bergerak menuju fase koreksi.

Harga emas spot ditutup melemah 0,27% ke level US$4.197,13 per ons troi, setelah sebelumnya sempat naik hingga 1% pada awal sesi. Secara mingguan, emas terkoreksi 0,79%. Kendati demikian, sepanjang 2025 harga emas masih membukukan kenaikan signifikan sebesar 59,95%.

Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan menjadi pemicu awal penguatan emas. Pelemahan pada laporan pekerjaan sektor swasta membuat pasar kembali memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih cepat.

Menurut Andy, ruang kenaikan harga emas masih terbuka. Jika tren bullish berlanjut, emas berpeluang menguat menuju level US$4.381 pada pekan ini. “Level tersebut akan menjadi resistensi penting untuk mengukur apakah momentum penguatan masih berlanjut,” ujarnya dalam riset terbaru.

Meski demikian, Andy juga memaparkan skenario alternatif. “Jika terjadi reversal dan harga menembus key point di US$3.867, maka berpotensi terjadi penurunan lanjutan menuju US$3.718,” tambahnya.

ChatGPT bilang:

Melemahnya dolar AS dalam beberapa sesi terakhir turut menjadi faktor pendorong kenaikan emas. Depresiasi greenback membuat emas relatif lebih murah bagi investor global, sehingga meningkatkan minat beli.

Meski momentum penguatan masih terasa, Andy menegaskan bahwa harga emas tetap sangat sensitif terhadap arah kebijakan The Fed serta data ekonomi utama seperti inflasi, PCE, PMI, dan NFP. “Jika dolar AS kembali menguat akibat sinyal hawkish dari The Fed atau kenaikan yield obligasi, emas berpotensi kembali tertekan dalam jangka pendek,” ujarnya.

Andy juga mengingatkan bahwa periode ini rawan memicu volatilitas tinggi, terutama menjelang keputusan penting The Fed. “Fase ini menjadi titik krusial karena rilis data ekonomi AS dan sinyal kebijakan The Fed berpotensi mengubah arah pasar dengan cepat,” tutupnya.

Dinamika Politik AS
Di sisi lain, spekulasi mengenai pergantian pimpinan The Fed turut memengaruhi sentimen pasar. Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi menyoroti dinamika politik AS yang memicu ketidakpastian baru. “Presiden AS Donald Trump kemungkinan besar akan menunjuk Kevin Hasset menggantikan Jerome Powell. Ini menimbulkan persepsi bahwa eksekutif semakin dominan terhadap bank sentral,” ujarnya.

Pasar juga menanti seberapa besar penurunan suku bunga The Fed pada 2026, yang bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan Powell.

Ibrahim memaparkan rentang teknis yang perlu dicermati pelaku pasar, yakni support 1 di US$4.126 per ons troi dan support 2 di US$4.050 per ons troi. Sementara itu, resistance 1 berada di US$4.271 per ons troi dan resistance 2 di US$4.328 per ons troi. “Level resistance pertama berpotensi diuji pada awal pekan ini jika sentimen positif berlanjut,” ujarnya.

Selain faktor internal AS, Ibrahim menambahkan bahwa risiko geopolitik global turut memperkuat tren penguatan emas. Di Eropa Timur, pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan utusan Gedung Putih tidak menghasilkan kemajuan mengenai gencatan senjata di Ukraina. Sementara itu, di Asia Timur, China meningkatkan aktivitas militer di sekitar Taiwan, memicu ketegangan baru.

“Situasi geopolitik yang memanas membuat investor kembali memprioritaskan aset lindung nilai seperti emas,” tutupnya.

Iklan